Wednesday, 2 January 2013

Konsepsi Ilmu Budaya Dasar dalam Kesusastraan


A. DILIHAT DARI PENDEKATAN KESUSASTRAAN

     Ilmu Budaya Dasar semula dinamakan Basic Humanities, berasal dari bahasa inggris the humanities.Istilah ini berhasal dari bahasa latin humanus,yang berati manusiawi, berbudaya, dan halus.
      Hampir disetiap jaman, seni termasuk sastra memegang peranan yang penting dalam the humanities. Ini terjadi karena seni merupakan ekspresi nilai-nilai kemanusiaan, dan bukannya formulasi nilai-nilai kemanusian seperti seperti yang terdapat dalam filsafat atau agama.dibanding dengan cabang the humanities yang lain, seperti hal nya ilmu bahasa.
      Seni memegang peranan yang penting, karena nilai-nilai kemanusiaan yang disampaikannya normatif.
Karena seni adalah ekspresi yang sifatnya tidak normatif, seni lebih mudah berkomunikasi. Karena tidak normatif, nilai-nilai yang disampaikan lebih fleksibel, baik isinya maupun cara penyampaiannya.
      Hampir disetiap jaman, sastra mempunyai peranan yang lebih penting. Alasan pertama adalah karena sastra menggunakan bahasa. Sementara itu, bahasa mempunyai untuk menampung hampir semua pernyataan kegiatan manusia. Dalam usahanya memahami dirinya sendiri, yang kemudian melahirkan filsafat, manusia mempergunakan bahasa.
      Manusia dan bahasa pada hakekatnya adalah satu. Kenyataan inilah yang mempermudahkan sastra untuk berkomunikasi.
      Sastra juga lebih mudah berkomunikasi, karena pada hakekatnya karya sastra adalah penjabaran abstraksi. Sastra juga didukung oleh cerita. Dengan cerita orang lebih mudah tertarik, dan degan cerita orang lebih mudah mengungkapkan gagasannya dalam bentuk yang tidak normatif.

B. ILMU BUDAYA DASAR YANG DI HUBUNGKAN DENGAN PROSA

     Istilah rosa biasanya kita kenal dengan fiksi dan tidak jarang sering diartikan sebagai cerita rekaan,prosa cerita dan juga sebagai cerita.
Di dalam kesusastraan bahasa Indonesia kita. Ada dua macam prosa yaitu :

~Prosa lama :
1. dongeng
2. hikayat
3. sejarah
4. epos
5. cerita pelipur lara

~Prosa baru :
1.cerita pendek
2.roman / novel
3.biografi
4.kisah
5.otobiografi

C. NILAI YANG TERKANDUNG DALAM PROSA FIKSI

     Sebagai seni yang berpondasi cerita, pasti dan harus dalam karya sastranya mengandung nilai-nilai moral, pesan, dan berbagai cerita.
Adapun point-point yang dapat kita peroleh melalui membaca prosa, antara lain :
1. prosa fiksi memberikan rasa gembira atau senang
2. prosa fiksi memberikan suatu informasi didalamnya
3. prosa fiksi memberikan warisan budaya
4. prosa dapat memberikan suatu penyesuaian wawasan.

D. ILMU BUDAYA DASAR YANG MENGHUBUNGKAN DENGAN PUISI

     Puisi adalah sesuatu yang kita kenal dengan rangkaian kata-kata indah yang penuh makna didalamnya,apalagi jika kita benar-benar meresapi dalam membacanya.
      Puisi termasuk dalam seni sastra, sedangkan sastra merupakan bagian dari kesenian, dan kesenian itu sendiri merupakan bagian dari kebudayaan.
      Jika kita pikirkan puisi adalah suatu rangkaian kata-kata yang membentuk beberapa kalimat yang penuh dengan makna hidup, alam, bahkan keTuhanan yang di ekspresikan oleh sang penyair dalam bentuk tulisan maupun ekspresi dari puisi yang dibacakan.

Didalam Ilmu Budaya dasar kita menemukan penyajiaan puisi, adapun yang mendasarinya, yaitu:
1. adanya hubungan didalam pembuataan puisi dengan pengalaman hidup manusia.
2. adanya suatu rasa insyaf atau sebuah kesadaran seseorang dari suatu kejadian.
3. puisi dan keinsyafan sosial


DAFTAR PUSTAKA :

-          Nugroho, W. 1996. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Universitas Gunadarma.

Permasalahan dari Geng Motor


Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Masa ini adalah masa yang sulit bagi setiap orang meskipun tingkat kesulitannya berbeda. Sifat dasar dari fase remaja ini adalah memiliki tingkat keingintahuan yang tinggi dan keinginan untuk mencoba hal-hal yang baru bagi dirinya. Lingkungan yang kurang baik dapat menyebabkan para remaja menyalurkan sifat dasar mereka dalam bentuk kenakalan remaja. Belakangan ini banyak aktivitas yang mengarah pada kegiatan kelompok yang mengacu pada minat yang sama. Jika berada dalam koridor positif, maka akan positif pula hasilnya. Namun persoalannya adalah pada usia yang labil kecenderungan ini masih bercabang pada kemungkinan positif dan negatif. Negatif mengarah pada tindakan destruktif, dan geng motor adalah salah satu bentuk kenakalan tersebut.

            Awalnya geng motor merupakan kumpulan anak-anak remaja yang memiliki kesenangan yang sama yaitu kebut-kebutan menggunakan sepeda motor tanpa pengaman dan tidak terdaftar di kepolisian. Sering melakukan balapan liar di jalan raya. Kebanyakan geng motor ini berawal dari pertemanan biasa para remaja yang menjadi anggotanya. Namun pada perkembangannya, geng motor tidak hanya senang. Dengan kebut-kebutan dan balap liar, tetapi juga mulai melakukan hal-hal yang meresahkan masyarakat dan melakukan tindak kriminal dengan alasan untuk eksistensi nama gengnya seperti tawuran, pengeroyokan, melakukan konvoi yang meresahkan masyarakat, melakukan aksi terror terhadap geng lain, penjarahan, dan lain-lain. Adapun kelompok-kelompok yang senang dengan sepeda motor di antaranya adalah klub motor dan komunitas motor namun kelompok ini sebagian besar merupakan kelompok yang telah terdaftar di kepolisian maupun di masyarakat

Permasalahan yang perlu diangkat dari keberadaan geng motor ini adalah para anggota yang kebanyakan merupakan anak-anak remaja yang masih bersekolah mulai dari usia remaja sampai dewasa awal, yang biasanya berada pada tingkat SMP sampai kuliah. Jumlah keanggotaan dari geng ini terus bertambah dengan cepat dan menyebar ke berbagai wilayah disekitar Kota Bandung meskipun organisasi induknya tetap berada di Kota Bandung. Banyak alasan dari para remaja ini untuk mengikuti geng motor, antara lain karena senang dengan kebut-kebutan, mengikuti idolanya, ajakan teman, tidak percaya diri, ingin berkuasa dan terkenal diantara teman-temannya, hubungan keluarga yang memiliki masalah, serta keingintahuan yang besar mengenai gangster.

Saat ini pihak kepolisian terus berupaya untuk memberantas geng motor dengan berbagai cara, diantaranya memasang spanduk anti geng motor di beberapa ruas jalan, melakukan penyuluhan ke sekolah menengah pertama dan menengah atas, melakukan razia geng motor di jalan raya, menjatuhkan hukuman yang sama dengan orang dewasa kepada remaja anggota geng motor yang melakukan tindak kriminal seperti hukuman penjara dan tembak ditempat, serta mengadakan apel pembubaran geng motor.

Masyarakat yang telah dibuat resah oleh keberadaan geng motor sangat mendukung tindakan polisi kepada anggota geng motor tersebut, mereka menyambut baik aksi pembubaran geng motor meskipun masih menyangsikan akan kebenaran bubarnya geng motor ini. Masyarakat di beberapa kawasan kota dan kabupaten Bandung juga membuat spanduk yang inti pesannya menentang kegiatan kekerasan geng motor. Ada juga beberapa anggota masyarakat yang menginginkan jika ada anggota geng motor yang terbukti melakukan tindak kriminal agar langsung ditembak di tempat saja untuk membuat jera remaja yang menjadi anggota geng motor tersebut.

Upaya-upaya yang dilakukan pihak kepolisian dan warga masyarakat memang membuat masyarakat merasa lebih aman tetapi bagi para anggota geng motor yang merupakan remaja yang perlu bimbingan dan pendekatan khusus tentu merupakan masalah baru, karena menjadi anggota geng motor merupakan salah satu bentuk pelarian dari masalah mereka. Upaya-upaya yang dilakukan untuk mengamankan keadaan perlu dibuat tidak hanya berpihak kepada kepentingan masyarakat saja tetapi anggota geng motor juga harus diperhatikan mengingat mereka masih remaja. Penanganan yang tepat yaitu sesuai dengan tingkat kejahatan dan mempertimbangkan umur sangat diperlukan untuk kepentingan masa depan mereka.

Kembali ke permasalahan Geng Motor, akan sangat indah rasanya apabila para anggota Geng Motor mendapatkan Pendidikan Pusaka di sekolah dan keluarga mereka. Pendidikan tentang pusaka non bendawi seperti tutur kata, tata krama dapat diwariskan oleh orang tua dan guru mereka. Alangkah indahnya apabila para anggota geng motor ketika sedang nongkrong bukannya balapan liar tapi diisi dengan kegiatan sosial. Kegiatan sosial tidak harus sesuatu yang besar seperti menjadi relawan di daerah bencana, tapi cukup dengan sesuatu yang simpel saja seperti membantu orang tua menyeberang jalan, membantu memanggilkan taksi bagi yang membutuhkan, dan lain sebagainya. Memang kelihatan simpel dan tidak berarti, tetapi sering kah kita melihat para pemuda melakukan hal itu? Tentunya saat ini sangat jarang ditemui hal-hal kecil tersebut terutama di perkotaan. Alangkah indahnya dunia ini apabila generasi mudanya mampu menghargai budaya dan terutama nilai-nilai luhur yang diwariskan melalui Pendidikan Pusaka di keluarga dan sekolahnya

Dalam peran orang tua sebaiknya lebih membimbing anak-anak nya ke hal yang positif dan jangan sampai anak-anak nya terjerumus sama hal kayak geng motor. Orang tua juga harus benar-benar memperhatikan pribadi seorang anak sehingga dapat mencegah terjadinya geng motor yang tidak produktif.

Tanggapan saya terhadap geng motor merupakan hal yang tidak bagus,dan aksi criminal yang harus ditanganin secepat mungkin. Karena kalau tidak segera ditangani masalah geng motor akan cepat menyebarluas dan semakin tidak baik perilaku masa remaja sekarang.

Saran saya terhadap geng motor itu strategi untuk menangani kasus ini supaya tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Warisan Kebudayaan Mendunia


Indonesia mempunyai banyak kebudayaan dari berbagi daerah,setiap daerah berbeda2 kebudayaan nya. Dan ini kebudayaan tari tradisional dari Sumatra Barat. Tari tradisional ini juga sangat favorite untuk masyarakat lain nya. Tari tradisional ini juga sering digunakan untuk acara resepsi pernikahan,acara persembahan dll.
Tari piring atau dalam bahasa Minangkabau disebut dengan Tari Piriang, adalah salah satu jenis Seni Tari yang berasal dari Sumatra Barat yaitu masyarakat Minangkabau disebut dengan tari piring karena para penari saat menari membawa piring.
Pada awalnya dulu kala tari piring diciptakan untuk memberi persembahan kepada para dewa ketika memasuki masa panen, tapi setelah datangnya agama islam di Minangkabau tari piring tidak lagi untuk persembahan para dewa tapi ditujukan bagi majlis-majlis keramaian yang dihadiri oleh para raja atau para pembesar negeri, tari piring juga dipakai dalam acara keramaian lain misalnya seperti pada acara pesta perkawinan.
Mengenai waktu kemunculan pertama kali tari piring ini belum diketahui pasti, tapi dipercaya bahwa tari piring telah ada di kepulaian melayu sejak lebih dari 800 tahun yang lalu. Tari piring juga dipercaya telah ada di Sumatra barat dan berkembang hingga pada zaman Sri Wijaya. Setelah kemunculan Majapahit pada abad ke 16 yang menjatuhkan Sri Wijaya, telah mendorong tari piring berkembang ke negeri-negeri melayu yang lain bersamaan dengan pelarian orang-orang sri wijaya saat itu.

Urutan Seni Tari Piring
Pada Seni tari piring dapat dilakukan dalam berbagai cara atau versi, hal itu semua tergantung dimana tempat atau kampung dimana Tarian Piring itu dilakukan. Namun tidak begitu banyak perbedaan dari Tari Piring yang dilakukan dari satu tempat dengan tempat yang lainnya, khususnya mengenai konsep, pendekatan dan gaya persembahan. Secara keseluruhannya, untuk memahami bagaimana sebuah Tari Piring disajikan, di bawah ini merupakan urutan atau susunan sebuah persembahannya.
1. Persiapan awal.
          Sudah menjadi kebiasaan bahwa sebuah persembahan kesenian harus dimulakan dengan persediaan yang rapi. Sebelum sebuah persembahan diadakan, selain latihan untuk mewujudkan kecakapan, para penari Tari Piring juga harus mempunyai latihan penafasan yang baik agar tidak kacau sewaktu membuat persembahan.
Menjelang hari atau masa persembahan, para penari Tari Piring harus memastikan agar piring-piring yang mereka akan gunakan berada dalam keadaan baik. Piring yang retak atau sumbing harus digantikan dengan yang lain, agar tidak membahayakan diri sendiri atau orang ramai yang menonton. Ketika ini juga penari telah memutuskan jumlah piring yang akan digunakan.

            Segera setelah berakhir persembahan Silat Pulut di hadapan pasangan pengantin, piring-piring akan diatur dalam berbagai bentuk dan susunan di hadapan pasangan pengantin mengikut jumlah yang diperlukan oleh penari Tari Piring dan kesesuaian kawasan. Dalam masa yang sama, penari Tari Piring telah bersiap sedia dengan menyarungkan dua bentuk cincin khas, yaitu satu di jari tangan kanan dan satu di jari tangan kiri. Penari ini kemudian memegang piring atau ceper yang tidak retak atau sumbing.


2. Mengawali tarian
         Tari Piring akan diawali dengan rebana dan gong yang dimainkan oleh para pemusik. Penari akan memulai Tari Piring dengan ’sembah pengantin’ sebanyak tiga kali sebagai tanda hormat kepada pengantin tersebut yaitu; sembah pengantin tangan di hadapan sembah pengantin tangan di sebelah kiri sembah pengantin tangan di sebelah kanan

3. Saat Menari
         Selesai dengan tiga peringkat sembah pengantin, penari Tari Piring akan memulakan tariannya dengan mencapai piring yang di letakkan di hadapannya serta mengayun-ayunkan tangan ke kanan dan kiri mengikut rentak muzik yang dimainkan. Penari kemudian akan berdiri dan mula bertapak atau memijak satu persatu piriring-piring yang telah disusun lebih awal tadi sambil menuju ke arah pasangan pengantin di hadapannya. Pada umumnya, penari Tari Piring akan memastikan bahwa semua piring yang telah diatur tersebut dipijak. Setelah semua piring selesai dipijak, penari Tari Piring akan mengundurkan langkahnya dengan memijak semula piring yang telah disusun tadi. Penari tidak boleh membelakangkan pengantin.
        Dalam masa yang sama kedua tangan akan berterusan dihayun ke kanan dan ke kiri sambil menghasilkan bunyi ‘ting ting ting ting …….’ hasil ketukan jari-jari penari yang telah disarung cincin dangan bagian bawah piring. Sesekali, kedua telapan tangan yang diletakkan piring akan dipusing-pusingkan ke atas dan ke bawah disamping seolah-olah memusing-musingkannya di atas kepala
4. Mengakhiri Tarian
        Sebuah sajian Tari Piring oleh seseorang penari akan dapat berakhir apabila semua piring telah dipijak dan penari menutup sajiannya dengan melakukan sembah penutup atau sembah pengantin sekali lagi. Sembah penutup juga diakhiri dengan tiga sembah pengantin dengan susunan berikut; sembah pengantin tangan sebelah kanan sembah pengantin tangan sebelah kiri sembah pengantin tangan sebelah hadapan

Makna dari Prosesi Tari Piring
         Tari Piring dikatakan tercipta dari ”wanita-wanita cantik yang berpakaian indah, serta berjalan dengan lemah lembut penuh kesopanan dan ketertiban ketika membawa piring berisi makanan yang lezat untuk dipersembahkan kepada dewa-dewa sebagai sajian. Wanita-wanita ini akan menari sambil berjalan, dan dalam masa yang sama menunjukan kecakapan mereka membawa piring yang berisi makanan tersebut”. Kedatangan Islam telah membawa perubahan kepada kepercayaan dan konsep tarian ini. Tari Piring tidak lagi dipersembahkan kepada dewa-dewa, tetapi untuk majlis-majlis keramaian yang dihadiri bersama oleh raja-raja atau pembesar negeri. Keindahan dan keunikan Tari Piring telah mendorong kepada perluasan persembahannya dikalangan rakyat jelata, yaitu dimajlis-majlis perkawinan yang melibatkan persandingan. Dalam hal ini, persamaan konsep masih wujud, yaitu pasangan pengantin masih dianggap sebagai raja yaitu ‘Raja Sehari’ dan layak dipersembahkan Tari Piring di hadapannya ketika bersanding.
          Seni Tari Piring mempunyai peranan yang besar di dalam adat istiadat perkawinan masyarakat Minangkabau. Pada dasarnya, persembahan sesebuah Tari Piring di majlis-majlis perkawinan adalah untuk tujuan hiburan semata-mata. Namun persembahan tersebut boleh berperanan lebih dari pada itu. Persembahan Tari Piring di dalam sesebuah majlis perkawinnan boleh dirasai peranannya oleh empat pihak yaitu; kepada pasangan pengantin kepada tuan rumah kepada orang ramai kepada penari sendiri.
         Pada umumnya, pakaian yang berwarna-warni dan cantik adalah hal wajib bagi sebuah tarian. Tetapi pada Tari Piring, sudah cukup dengan berbaju Melayu dan bersamping saja. Warna baju juga adalah terserah kepada penari sendiri untuk menentukannya. Namun, warna-warna terang seperti merah dan kuning sering menjadi pilihan kepada penari Tari Piring kerana ia lebih mudah di lihat oleh penonton.

        Alat musik yang digunakan untuk mengiringi Tari Piring, cukup dengan pukulan Rebana dan Gong saja. Pukulan Gong amat penting sekali kerana ia akan menjadi panduan kepada penari untuk menentukan langkah dan gerak Tari Piringnya. Pada umumnya, kumpulan Rebana yang mengiringi dan mengarak pasangan pengantin diberi tanggungjawab untuk mengiringi persembahan Tari Piring. Namun, dalam keadaan tertentu Tari Piring boleh juga diiringi oleh alat musik lain seperti Talempong dan Gendang.
       Itulah artikel yang membahas mengenai Seni tari piring dari Sumatra barat atau Tanang minangkabau. Semoga Budaya Seni tari asli dari tanah minangkabau ini bisa dijaga oleh para generasi muda sehingga bisa tetap lestari dan tidak punah.

referensi sriandalas.multiply.com

WARISAN BUDAYA YANG MELEKAT PADA SETIAP MANUSIA DI INDONESIA



Kebudayaan tak lepas dari manusia, kenapa demikian ? karena dalam hal ini kebudayaan sebagai objek dan manusia adalah sebagai subjek nya, sehingga ketergantungan budaya terhadap manusia sangatlah lekat. Kemudian apa sebenarnya arti dari ‘kebudayaan’?

Secara kasar kebudayaan bisa diartikan sebagai semua hal yang dilakukan oleh manusia secara terus menerus. Secara bahasa Kebudayaan adalah Budaya yang berarti budi atau akal, jika dalam bahasa latin namanya colere yang berarti mengolah tanah. Jadi kebudayaan secara umum adalah dapat diartikan sebagai “segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi(pikiran) manusia dengan tujuan untuk mengolah tanah atau tempat tinggalnya”. Kebudayaan dengan demikian mencakup segala aspek kehidupan manusia baik berupa material maupun non material.

Semakin hari bumi tempat manusia berdiri akan semakin tua, karena itu diperlukan kesadaran dari diri kita untuk dapat menjaga bumi ini dengan baik dan benar. Jika kita menjaga warisan budaya di bumi ini. Hal-hal buruk akan menimpa diri kita dan membuat banyak kerugian. contohnya Tari reog ponorogo yang sekarang di negara malaysia di akui bahwa tari tersebut berasal dari negara itu, walaupun sebenarnya tari reog ponorogo awalnya berasal dari pulau bali, maka dari itu kita harus melestarikan budaya di indonesia dan menjaganya agar tidak di akui oleh negara lain,Hal terbaik yang bisa kita lakukan saat ini adalah mencega hal hal buruk itu terjadi. Karenanya diperlukan kerjasama dari semua pihak. Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dampak negatif dari pengakuan warisan budaya indonesia adalah dengan tidak membawa budaya indonesia negara lain.
           
Karena warisan budaya di indonesia ini harus kita jaga sampai generasi penerus,  warisan budaya di indonesia ini peninggalaan dari ibu pertiwi, Di indonesia banyak ragam budaya dari Sabang sampai merauke, macam" budaya di indonesia antara lain, Tari tradisional, makanan, alat musik,baju adat dari berbagai daerah,
untuk itu mari kita lestarikan budaya di indonesia agar tidak ada penyimpangan penyimpangan dari negara lain.
MEMAHAMI KEBUDAYAAN
Kebudayaan atau culture adalah keseluruhan pemikiran dan benda yang dibuat atau diciptakan oleh manusia dalam perkembangan sejarahnya. Ruth Benedict melihat kebudayaan sebagai pola pikir dan berbuat yang terlihat dalam kehidupan sekelompok manusia dan yang membedakannya dengan kelompok lain. Para ahli umumnya sepakat bahwa kebudayaan adalah perilaku dan penyesuaian diri manusia berdasarkan hal-hal yang dipelajari/learning behavior (Sajidiman, dalam “Pembebasan Budaya-Budaya Kita” ;1999).
Kebudayaan sifatnya bermacam-macam, akan tetapi oleh karena semuanya adalah buah adab (keluhuran budi), maka semua kebudayaan selalu bersifat tertib, indah berfaedah, luhur, memberi rasa damai, senang, bahagia, dan sebagainya. Sifat kebudayaan menjadi tanda dan ukuran tentang rendah-tingginya keadaban dari masing-masing bangsa (Dewantara; 1994).
Kebudayaan dapat dibagi menjadi 3 macam dilihat dari keadaan jenis-jenisnya:
  • Hidup-kebatinan manusia, yaitu yang menimbulkan tertib damainya hidup masyarakat dengan adapt-istiadatnya yang halus dan indah; tertib damainya pemerintahan negeri; tertib damainya agama atau ilmu kebatinan dan kesusilaan.
  • Angan-angan manusia, yaitu yang dapat menimbulkan keluhuran bahasa, kesusasteraan dan kesusilaan.
  • Kepandaian manusia, yaitu yang menimbulkan macam-macam kepandaian tentang perusahaan tanah, perniagaan, kerajinan, pelayaran, hubungan lalu-lintas, kesenian yang berjenis-jenis; semuanya bersifat indah (Dewantara; 1994).
Untuk lebih mendalami mengenai kebudayaan, boleh kita masukkan unsur dari kebudayaan itu sendiri, berikut adalah unsure dari kebudayaan :
  • Sistem Religi à sebagai kepercayaan dari masing masing manusia
  • Sistem Organisasi Kemasyarakatan à Sebagai wujud kerjasama antar manusia karena setiap menausia saling ketergantungan
  • Sistem Pengetahuan à Kebudayaan akan berlangsung lama karena manusia mempunyai pengetahuan untuk dibukukan untuk generasi selanjutnya.
  • Sistem mata pencaharian hidup dan system –sistem ekonomi
  • Sistem Teknologi dan Peralatan à sebagai pemenuhan terhadap alat alat yang akan dibutuhkan didalam kebudayaan
  • Bahasa à Sebagai alat komunikasi bagi masing – masing mahluk hidup
  • Kesenian à Sebagai wujud pemenuhan terhadap kebutuhan pokok (makan, bernafas), karena manusia juga membutuhkan sesuatu yang enak dipandang, suara merdu untuk di dengar, dll.
Kemudian apakah wujud dari kebudayaan tersebut ? menurut dimensinya, kebudayaan mempunyai 3 wujud yaitu :
  • Kompleks Gagasan
Gagasan tersebut biasanya berupa tulisan, dimana wujud riilnya adalah pada karangan dan buku – buku hasil karya para penulis warga masyarakat yang bersangkutan.
  • Kompleks Aktifitas
Wujud secara langsung adalah Sistem Sosial yang terwujud setiap hari, system social ini terdiri dari aktivitas – aktivitas manusia dalam berinteraksi, berhubungan satu sama laen, bergaul, dll.
  • Wujud sebagai Benda
Hasil interaksi, saling berhubungan antar manusia dan laen – laen menghasilkan sesuatu berupa benda untuk memenuhi keperluan hidup masing masing manusia.
Ketiga wujud dari kebudayaan tadi, dalam kenyataan kehidupan masyarakat tidak lepas antara satu dengan yang lain. Kebudayaan ideal dan adat istiadat mengatur dan memberi arah kepada tidakan – tindakan dan karya manusia baik yang berupa ide ide maupun tindakan dan karya manusia. Sebaliknya, kebudayaan fisik membentuk suatu lingkungan hidup tertentu yang makin lama semakin menjauhkan manusia dari lingkungan alamiah sehingga mempengaruhi pula pola – pola perbuatannya, bahkan juga cara.